Oleh: smkn1tkn | Februari 5, 2008

Menyadarkan Kekeliruan dan Kebandelan Anak

Berikut terapi bertahap dalam menyadarkan kekliruan dan kebandelan anak kecil yang disimpulkan dari sunnah Rasulullah :

1. Menunjukkan kesalahan dalam bimbingan.
Diriwayatkan oleh Al Bukhari dan Umar bin Abi Salamah, tuturnya, “Waktu bocah, aku pernah berada di pangkuan Rasulullah SAW sembari tanganku mengacak-ngacak makanan di piring. Rasulullah SAW langsung berkata kepadaku, ‘Hai bocah, baca bismillah, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah yang didekatmu.’ Begitulah cara makanku setelah itu.”.

2. Menunjukkan kesalahan dengan sindiran ramah.
Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari Ibnu Abbas, tuturnya, “Rasulullah SAW datang membawa susu sambil diapit Ibnu Abbas di sebelah kanannya dan Khalid bin Al-Wahid di sebelah kirinya. Rasulullah SAW berkata pada Ibnu Abbas, ‘Bolehkah aku minumi Khalid dulu?’ (yang berada di posisi sebelah kiri, padahal seharusnya yang didahulukan adalah yang sebelah kanan). Ibnu Abbas menjawab, ‘Saya tidak ingin mendahulukan seorang pun atas diriku dengan minuman Rasulullah SAW’. Segera beliau raih Ibnu Abbas, lalu ia minum, baru kemudian Khalid.”

3. Menunjukkan kesalahan dengan pengarahan.
Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari Abu Hurairah r.a., tuturnya, “ Al-Hasan bin Ali r.a. mengambil sebutir kurma shadaqah lalu memamahnya di mulutnya. Nabi SAW pun langsung berseru, ‘Keluarkan kembali…keluarkan kembali…!’ agar ia segera memuntahkannya keluar. Selanjutnya, beliau berkata kepadanya, ‘Tidakkah engkau tahu, kita ini pantang memakan shadaqah?’ “.

Diriwayatkan lagi oleh Al-Bukhari dari Abdullah bin Abbas, tuturnya, “Al-Fadhl bin Al-Abbas tengah mendampingi Rasulullah SAW ketika seorang perempuan dari Bani Khats’am datang meminta fatwa kepada beliau. Al-Fadhl terus-menerus memandanginya dan perempuan itu pun balas memandanginya. Melihat aksi tersebut, Rasulullah SAW segera memalingkan wajah Al-Fadhl ke bagian lain.

4. Menunjukkan kesalahan denan bentakan.
Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari Abu Dzar, tuturnya sebagai berikut.

Aku pernah terlibat tengkar mulut dengan seorang laki-laki yang kebetulan beribukan perempuan A’jamiyyah (non-Arab). Aku ungkit-ungkit dan aku cerca habis-habisan ia bersama ibunya. Ternyata, ia kemudian melaporkanku kepada Rasulullah SAW. Nabi SAW segeram memanggil dan menginterogasiku.

“Apakah engkau pernah saling caci dengan fulan?”

“Ya”

“Apakah ibunya turut engkau bawa-bawa?”

“Ya”

Beliau pun menegurku (dengan kecaman), “Engkau nasih mengidapi sisa-sisa jahiliah!”

5.Menunjukkan kesalahan dengan pendiaman atau permusuhan
Cara ini dilakukan sementara sampai si anak menyadari kesalahan yang dibuatnya dan mau mengakhirinya.

6. Menunjukkan kesalahan dengan pukulan.
Ini adalah terapi terakhir. Cara ini memiliki sejumlah syarat yang harus Anda ingat-ingat sewaktu memperlakukan anak Anda, sebagai berikut.
• Jangan gunakan cara ini kecuali jika memang seluruh terapi penyadaran sudah tidak mempan lagi untuk menyadarkan si anak.
• Jangan memukul sewaktu marah atau terbakar emosi.
• Hindari bagian-bagian tubuh yang sensitif dan mudah sakit jika memang terpaksa harus memukul/ menamparnya, seperti kepala, muka, dada, dan perut.
• Lakukan pemukulan/penamparan dengan intensitas kekerasan pemukulan yang bertahap, dimulai dengan pukulan ringan untuk selanjutnya bisa ditambah.
• Gunakan alat yang tidak terlalu menyakitkan ataupun terlalu merendahkan misalnya sepatu.
• Perhatikan usia pemukulan (lebih dari empat tahun dan kurang dari sepuluh tahun, kecuali untuk kasus shalat)
• Jangan lakukan pemukulan untuk tujuan merendahkan, mempermalukan, mengolok-olok, dan sebisa mungkin jangan lakukan di hadapan kawan-kawannya.

Diriwayatkan oleh Muslim, Abu Mas’ud Al Badri berkisah, “Aku pernah memukul anakku dengan cambuk, sayup-sayup aku dengar suara di belakangnya, ‘Ketahuilah, Abu Mas’ud! Ketahuilah, Abu Mas’ud! Karena sangat marahnya, aku tidak bisa lagi memahami suara itu. Ketika semakin dekat, ternyata pemilik suara tersebut adalah Rasulullah SAW dan beliau sekonyong-konyong berseru, ‘Ketahuilah, Abu Mas’ud! Ketahuilah, Abu Mas’ud! Ketahuilah, Abu Mas’ud!’. Segera aku lepaskan cambuk dari tanganku. Beliau pun bersabda, ‘Ketahuilah, Abu Mas’ud, sesungguhnya Allah lebih berkuasa atasmu daripada kamu atas anak ini.’ “.

Hikayat lain tentang sensitivitas orang tua memukul anak ditunjukkan oleh salah seorang tokoh shalih. Alkisah, ia dipenjara oleh penguasa yang zalim dan dipukuli habis-habisan, tetapi pemukulan tersebut hanya disasarkan pada satu bagian tubuhnya.

Ketika itulah, aku, kisah tokoh shalih itu, teringat pada anakku. Setiap kali mengajarnya, aku selalu memegang penggaris di tangan yang aku pukulkan ke pahanya menakala ia keliru (membaca). Karena kesakitan dipukul pada satu tempat saja, ia memohon-mohon kepadaku sambil menangis agar aku memukulnya di bagian lain, tetapi aku tolak mentah-mentah.

Aku terus-menerus teringat akan peristiwa di penjara itu dan kaitannya dengan hobiku yang selalu memukul paha anakku. Aku menjadi semakin yakin bahwa Allah tidak akan meninggalkan sesuatu tanpa pembalasan. Aku pun semakin yakin akan nasib akhir orang-orang yang zalim.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: